Foursquare Appreciation Post
Lelah dengan semua drama di OpenStreetMap, penulis mengungsi sejenak ke… Foursquare.
Awalnya, ku mulai di Google Map. Karena “dibully” sama pihak Google (banyak submission-ku yang ditolak tanpa sebab), ku mengungsi ke OpenStreetMap. Ternyata, di OpenStreetMap pun, masih bisa “dibully”. Huft.
Meskipun Path sudah mati. Meskipun Instagram sudah tidak pakai Foursquare lagi. Ternyata, Foursquare masih hidup.
Sebelum Instagram diakuisisi Facebook, aplikasi itu menggunakan Foursquare sebagai “location services”-nya. Jadi, setiap upload foto, bisa sekalian check-in di 4sq. Setelah diakuisisi Facebook, hubungan Instagram-4sq dipaksa cerai. Facebook menguakuisi saingan terberatnya 4sq pada waktu itu — Gowalla — lalu disulap jadi “Facebook Places”.
Begitu juga Path. Check-in di Path bisa langsung terkoneksi dengan 4sq. Hingga akhirnya Path mati di 2018.
Tapi ternyata, data foto+checkin Path (2011–2018) dan Instagram (2010–2014) masih ada di database internalnya Foursquare sampai sekarang. Dan keduanya masih bisa diakses via aplikasi Swarm dan aplikasi web Foursquare City Guide.
Kenapa sekarang tiba-tiba aku ingat Foursquare lagi?
Suatu malam, aku ingin bersih-bersih data di ponselku. Ada banyak foto yang mengendap di sana. Mau dihapus, sayang. Mungkin, kalau diupload ke Internet, bisa lebih berguna.
Tapi, diupload di mana?
Di Instagram? “Read the room!” lah. Instagram di 2026 bukan tempat yang “pas” lagi untuk upload banyak foto-foto random. Wkwk.
Akhirnya, ku pilih Flickr. Salah satu alasannya, perkara lisensi foto.
Di Flickr, kita bisa upload massal banyak foto sekaligus. Lalu semua foto itu bisa otomatis dikasih lisensi, sesuai pilihan kita.
Nah, kalau lisensinya sudah jelas seperti ini, Wikipediawan bisa mencomot foto kita jadi ilustrasi pendukung di artikel Wikipedia. Bukan hanya Wikipedia, mungkin beraneka ragam proyek-proyek pendidikan lainnya, yang disiplin lisensinya lumayan ketat.
Tujuan utamaku mengupload ke Internet itu…. “supaya bermanfaat”. Dengan menambah lisensi seperti ini, harapannya, supaya bisa lebih “besaar” manfaatnya.
Ketika mengupload fotoku ke Flickr, aku melihat fitur “geolokasi”. Intinya, untuk setiap foto yang kita upload, bisa ditambahkan titik koordinat.
Dan, di titik-titik koordinat tertentu, nama tempatnya pun bisa otomatis muncul. “Powered by Foursquare” katanya.
Aku tahu bahwa titik koordinat tempat dari Foursquare itu sedikit ngaco. Aku coba cari cara untuk memperbaiki titik itu.
Dan ternyata, aku menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang mirip Google Maps, sekaligus mirip OpenStreetMap.
Mirip Google Maps, karena siapapun bisa “mengusulkan” penambahan ataupun perubahan terhadap data tempat yang ada. Mirip Google Maps, karena usulan itu belum tentu diterima. Di OpenStreetMap, tidak seperti ini. Tidak perlu usul. Langsung berubah.
Mirip OpenStreetMap karena setiap perubahan tersebut tercatat dan terbuka secara transparan. Di Google Maps tidak seperti ini. Rakyat jelata tidak punya akses data histori seperti itu. Hanya “kasta atas” di Google saja (dan mungkin user Local Guide yang pangkatnya sudah level dewa). Tapi di Foursquare, data itu dibuka.
“Mengapa orang-orang sukarela — secara gratis — jadi sukarelawan Google Local Guides? Menambahkan tempat baru. Mengupdate data tempat yang sudah ada.”
Mungkin, ingin menolong orang lain. Jika orang itu melihat ada gerobak nasi goreng di prapatan. Orang itu akan menambahkan gerobak itu ke Google Maps. Harapannya, pada suatu hari, mungkin saja ada orang lain yang sedang lapar malam-malam. Lalu dia buka Google Maps, cari “nasi goreng”, lalu gerobak itu muncul di layar ponselnya. Dia datang ke sana, pesan dan makan. Dia senang, karena kenyang. Abang nasgor senang, karena laku.
“Mengapa orang-orang sukarela — secara gratis — jadi sukarelawan OpenStreetMap?”
Mungkin, seperti aku. Banyak usulan tempat yang ditolak tanpa sebab oleh Google Maps. Kesal, jadinya, nambahin datanya ke OpenStreetMap saja deh.
Tapi, situasi “lapar malam-malam, buka aplikasi, lalu datang ke gerobak nasgor terdekat” tidak bisa terjadi, kalau data nasgornya dimasukkan ke OSM. Karena OSM gak ada aplikasi mobilenya, seperti Google Maps.
Meskipun demikian, setidaknya, data tempat nasgor itu sudah “tersimpan di server global.” Masalah bagaimana cara mencarinya, itu urusan lain. Setidaknya, sudah tersimpan dulu.
Oh iya, aku pernah membuat aplikasi “yang lumayan mirip seperti Google Maps lah, meskipun gak terlalu mirip-mirip amat”. Tapi, datanya diambil dari OpenStreetMap.
Jadi…. Menambahkan lokasi restoran nasi goreng di OSM, tidak sia-sia. Pakai aplikasi ini, orang-orang bisa mencari restoran nasi goreng terdekat dari rumahnya.
“Mengapa orang-orang sukarela — secara gratis — jadi sukarelawan Foursquare?”
Nah. Kalau Foursquare ini beda.
Orang-orang menambahkan data ke Foursquare bukan untuk jadi sukarelawan. Tapi untuk eksis dan pansos.
Buanyak sekali data tempat di Foursquare sekarang yang sumber datanya itu berasal dari : Instagram (2010–2014) dan Path (2011–2018). Motivasi mereka menambahkan data tempat itu, berbeda sekali dengan motivasi kontributor Google Local Guides atau OpenStreetMap. Motivasi utama mereka : mau update status.
Datang ke bioskop. Check in. Eh, ternyata data bioskopnya belum ada di Foursquare. Maka dibuatlah data tempat bioskopnya terlebih dahulu. Setelah dibuat, baru deh check in. Jangan lupa sekalian upload karcis bioskopnya, biar bisa dipamerin ke circle terdekat. “Eh, aku udah nonton film ini loooh. Di bioskop X, tadi sore..”
Begitu juga ketika berangkat sekolah, atau jumatan ke mesjid, atau ngurus SIM ke samsat, atau berangkat ke kantor, atau ke luar kota via terminal, dll, dll. Semua orang “check-in” dulu (pada masanya). Dan kalau, data lokasinya belum ada di database, mereka buat dulu data lokasinya. Baru lanjut check in.
Hasilnya? Datanya lengkap banget.
Tapi masih terpendam di dalam sistem Foursquare — yang menurutku, lumayan njelimet untuk diakses.
Di 2026, populasi para tukang check-in ini sudah jauh sangat berkurang. Karena Instagram sudah putus sama Foursquare dan Path sudah mati. Kalaupun masih ada yang tersisa, merekalah para user setia “Swarm” — aplikasi per-check-in-an baru, buatan Foursquare.
Akhirnya aku memutuskan untuk menginstal aplikasi ini, for research purposes.
Di banyak aspek, ada beberapa hal yang mengingatkanku terhadap Google Maps dan OpenStreetMap. Misalnya, tidak semua usulan perubahan data bisa diterima. Suntingan kita akan diseleksi lagi oleh para Superuser. Masalahnya, populasi Superuser ini pun sudah lumayan menyusut. Di kota-kota tertentu, ada yang tidak punya Superuser sama sekali. Akibatnya? Usulan-usulan itu menumpuk di dalam sistem, tidak ada yang memproses.
Tapi, ada beberapa hal yang “benar-benar” suatu pengalaman yang baru.
Misalnya, fitur “list”.
Kalau kita menambahkan tempat baru di Google Maps dan OpenStreetMap, tempat tersebut seakan-akan jadi “milik Google/OpenStreetMap”. Berbeda dengan di Foursquare. Kita bisa “setengah memiliki” tempat-tempat tersebut dengan menambahkannya ke dalam list kita. Di dalam list itu, kita bisa memberikan “sentuhan pribadi” ke tempat-tempat itu.
Elemen “sentuhan pribadi” ini yang sulit ditemukan di Google Maps dan OpenStreetMap. Di sana, semuanya harus “seragam”, mengikuti satu pakem yang sama. Kita tidak bisa menulis review kecil atau pengalaman pribadi di database OpenStreetMap, tapi kalau di Foursquare, ya bisa. Tinggal buat saja list baru, tambahkan tempat-tempat itu, lalu bebas bercerita apa saja.
Bagi beberapa pihak, sentuhan “personal” ini membuat database geospasialnya jadi “kurang serius”. Padahal, menurutku, ada informasi/pengetahuan baru yang bisa direpresentasikan dalam bentuk teks bebas personal seperti ini. Sesuatu yang mungkin luput direpresentasikan dalam bentuk skema tagging OpenStreetMap yang kompleks.
Salah satu pengalaman baru yang ku rasakan di Foursquare adalah mengenai bagaimana aplikasi ini “menampilkan” data lokasi yang sudah ada di dalam database.
Di OpenStreetMap, perkara ini menjadi salah satu masalah yang cukup pelik. Karena “pixel”nya tidak muat. Misalnya, icon “restoran” saling bertabrakan kalau tempat makannya saling berdempetan di dunia nyata. Begitu juga dengan teksnya. Bayangkan jika ada “Soto Ayam Surabaya Jembatan 32” yang bersebelahan langsung dengan “Mie Ayam Bakso Barokah Jaya Sumber Makmur (ASLI)”. Teksnya ditampilkan memanjang, sampai radius beberapa puluhan meter, padahal kios di dunia nyatanya mungkin sekedar 3 x 3 meter.
Di Foursquare Swarm, perkara ini diselesaikan dengan cukup elegan. Tidak pakai pendekatan kartografi tradisional — seperti di OpenStreetMap, yang mencoba untuk menampilkan semua data tempat dalam bentuk simbologi peta. Melainkan, pakai kombinasi kolom pencarian dan data GPS ponsel masing-masing.
Swarm hanya menampilkan daftar tempat “di sekitar kita”, sesuai data GPS di ponsel. Daftar tempat ditampilkan dalam bentuk list, bukan peta. Mungkin diurutkan berdasarkan kedekatan. Mungkin diurutkan berdasarkan popularitas tempat tersebut (berapa banyak jumlah orang yang check in di tempat ini selama sebulan terakhir?).
Jadi, meskipun banyak sekali titik tempat di database Foursquare, semua itu bisa ditampilkan secara “elegan” di aplikasi Swarm.
Dan, hal ini membuat ku cukup penasaran. Setiap kali hinggap di suatu tempat yang jauh dari rumahku, ku suka menyempatkan diri buka Swarm. Cek, apa saja “tempat-tempat populer” yang ada di sekitar sini. Data koordinat GPS yang ada di ponselku menjadi sesuatu yang amat berharga. Karena, berkat data itu, aku bisa menjelajahi database Foursquare secara lebih dalam.
Dan, jika aku berhasil melihat “tempat-tempat” populer di sekitarku, aku selalu penasaran, mengecek siapa yang menjadi “Pokemon Gym Leader”nya di tempat itu.
Enggak. Fitur aslinya itu namanya “Mayorship”. Tapi, konsepnya sama persis seperti “Gym Leader” di Pokemon Go.
Di Pokemon Go : Tiap titik tempat, ada penguasanya. Nah, kita bisa “menggulingkan” penguasa itu, dengan cara datang langsung ke titik tempat itu.
Di Swarm. Sama. Tapi, cara menggulingkannya, pakai check-in. User yang paling banyak check-in selama sebulan terakhir di tempat itu, berhak jadi “mayor” yang baru.
Di satu sisi. Kebanggaan. Bayangin jadi “mayor” di masjid komplek (wah, ini sih riya?! wkwk). Atau jadi “mayor” di seisi komplek. Certified warga lokal gitu sih konsepnya. Wkwk.
Fitur ini juga bisa dimanfaatkan sebagai “turf war” virtual antar user Swarm. Kuasai titik-titik strategis ditempat-tempat tertentu. Perluas wilayah kekuasaan. Gak usah sampai ngotot banget, sih. Misalnya, sampai bela-belain datang ke sono, sekadar untuk check-in. Natural saja, lakukan aktivitas seperti biasa. Kalau kebetulan sedang jalan ke sana, ya check in. Wkwk.
Tapi, berkat fitur inilah, aku jadi tahu akun Swarm tetangga sebelahku.
Dia menjadi “mayor” di cluster sebelah, di masjid komplek, di alfamart komplek. Tiap kali kita buka halaman cluster/masjid/alfamart itu, ada pengumuman yang terpajang : “___ is the mayor with __ check-ins in the last 30 days..”
Nama dan foto profil yang mayor bisa diklik, untuk mengakses profilnya. Dari situ, bisa add friend, bahkan bisa chatting. Jadi, kalau mau tanya-tanya lebih jauh tentang suatu lokasi, fitur “mayor” ini sangat bermanfaat sekali.
